©MonZaeMon™ 69 - Sekarang
ini, bukan hanya peristiwa ulang tahun yang membuat Anda mentraktir
teman-teman. Diangkat jadi pegawai tetap, naik jabatan, baru pulang dari
perjalanan dinas, memenangkan penghargaan, punya pacar baru, sampai
kucing Anda beranak pun, teman-teman berteriak, "Asiiiik...! Traktir!"
Mau tak mau, entah karena memang ingin merayakannya atau sekadar
memenuhi tuntutan tersebut, kita pun memenuhi permintaan mereka.
Kegiatan traktir-mentraktir secara sadar maupun tak sadar sebenarnya
sering kita lakukan. Perhatikan saja, biasanya kalau sedang di kantin
kantor atau bertemu teman di mal, kita tak segan membayar minuman sang
teman. Meskipun nilainya mungkin tak seberapa, hal itu juga termasuk
mentraktir.
Bicara soal traktiran, psikolog Fredrick Dermawan Purba, MPsi, sepakat
bahwa kegiatan tersebut memang umum dilakukan. Biasanya, hal itu terjadi
pada suasana khusus yang positif di mana seseorang yang mengalaminya
merasa senang dan bahagia, sehingga muncul keinginan untuk bersyukur
atau berterima kasih."Karena
merasa mendapat sesuatu yang positif, biasanya seseorang terpicu untuk
bersyukur pada Tuhan atas keadaan tersebut, dan berterima kasih kepada
orang-orang di sekelilingnya yang mendukungnya. Salah satu bentuk ucapan
syukur dan rasa terima kasih itu diwujudkan dengan cara mentraktir,"
ujar staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran ini.Namun
menurut Jeki, demikian ia biasa disapa, karena seringnya momen istimewa
dirayakan dengan mentraktir orang lain, lama-kelamaan hal tersebut
seperti menjadi sebuah keharusan dan kewajiban. Bahkan, orang-orang
kemudian dengan sengaja minta ditraktir. Wajar atau tidak, menurut Jeki,
sifatnya sangat relatif.
"Bisa
dibilang wajar, bisa dibilang tidak. Sangat tergantung pada orang yang
meminta traktiran tersebut. Kalau memang teman dekat atau orang yang
benar-benar berjasa, saya pikir wajar saja minta traktiran," ujarnya.
Ia
menambahkan, kalau orang yang minta ditraktir hubungannya kurang akrab
atau biasa-biasa saja, itu tidak wajar. "Yang penting yang minta
ditraktir tahu diri saja," tuturnya.
Selain
tahu diri, sebaiknya seseorang juga mempertimbangkan cara penyampaian
saat meminta ditraktir. Sebaiknya permintaan itu disampaikan dengan cara
bercanda. Saat orang yang diminta tidak merespons atau bahkan menolak,
sebaiknya ia berhenti meminta atau tidak memaksa karena akan membuat
suasana menjadi tidak menyenangkan bagi kedua belah pihak.
Pada
dasarnya, kegiatan traktir-mentraktir adalah hal yang positif, sehingga
masih terus dilakukan banyak orang hingga sekarang. Hanya saja, kita
perlu menyadari bahwa titik berat kegiatan ini adalah pada kesadaran dan
kerelaan si empunya momen. Jika ia tidak berkenan, semua orang wajib
menghormatinya.
Untuk
yang mentraktir, Jeki berpesan agar tidak memaksakan keadaan. Hal utama
yang harus dipertimbangkan adalah soal keuangan. Mentraktir membutuhkan
uang, dan kadang jumlahnya tak sedikit. Jadi, jika memang tidak
memungkinkan atau tidak ada dana, sebaiknya tidak perlu melakukannya.
Atau jika dananya terbatas, adakan saja secara sederhana.
Mentraktir
orang lain harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kerelaan. Yang
perlu diingat, traktir-mentraktir ini bukanlah suatu kewajiban. Jadi
orang lain tak berhak menghakimi orang yang tak mau mentraktir.
"Tak
perlu memikirkan apa kata orang jika tidak mentraktir. Itu tidak akan
memengaruhi hubungan personal. Tapi jika memang mampu dan memungkinkan,
kenapa tidak? Pada dasarnya Anda bersyukur, berterima kasih dan berbagi
kebahagiaan.
Dengan mentraktir, berarti Anda memberi kebahagiaan juga pada orang lain
dan itu akan membuat kebahagiaan Anda bertambah besar," tuturnya.
Berikut ini adalah hal-hal yang harus dipertimbangkan jika ingin mentraktir:
Sebelum mentraktir
* Kondisi keuangan.
* Niat dan alasan melakukannya.
* Bentuk traktirannya dan orang-orang yang akan terlibat.
Jika minta ditraktir
* Seberapa besar peran kita. Kita harus tahu diri.
* Alasan untuk minta ditraktir.
* Suasana hati orang tersebut. Ungkapkan keinginan ditraktir dengan cara bercanda atau lewat kata-kata sopan. Jangan memaksa.
Sumber: Majalah Sekar

No comments:
Post a Comment