بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
MonZaeMon 69 - Google mengubah kebijakan penjualan aplikasi Android di Indonesia.
Selain menampilkan harga aplikasi dengan mata uang rupiah, sekarang
pengembang asal Indonesia juga bisa merilis aplikasi Android berbayar di
Google Play Store.
Mulai Jumat (7/2/2014), Google sudah mau
mentransfer uang hasil penjualan aplikasi Android berbayar ke rekening
bank di Indonesia. Ini sangat memudahkan pengembang Indonesia dalam
menjual aplikasi berbayar karena mereka tak perlu lagi berurusan dengan
perantara dari negara lain.
Cukup dengan membuka rekening bank di
Indonesia, dan mendaftarkannya di
Play Store, maka pengembang dapat
menerima transfer uang hasil penjualan aplikasi dari Google.
Pengguna Android di Indonesia sendiri mulai hari ini sudah bisa membeli aplikasi di Play Store dengan harga mulai Rp 12.000.
CEO
pengembang game TouchTen, Anton Soeharyo, menyambut perubahan kebijakan
yang sangat memudahkan pengembang asal Indonesia ini. "Ini perubahan
yang bagus, dan kami jadi semangat untuk membuat
game di Android. Kami bisa langsung tarik uang hasil penjualan dari bank di Indonesia," kata Anton saat dihubungi
KompasTekno.
Sebelumnya,
Google tidak mau mentransfer uang hasil penjualan aplikasi Android ke
rekening bank di Indonesia. Hal ini membuat pengembang Indonesia hanya
dapat melakukan registrasi dan memublikasikan aplikasi gratis di Play
Store.
Sementara itu, jika ingin memublikasi aplikasi atau
game berbayar, pengembang aplikasi lokal biasanya menjalin kemitraan dengan
publisher aplikasi atau
game dari Singapura, Hongkong, atau Amerika Serikat.
Jika menjalin kemitraan dengan
publisher
di luar negeri, biasanya mereka memotong keuntungan pengembang. CEO
perusahaan pengembang aplikasi DyCode asal Bandung, Andri Yadi
mengatakan,
publisher biasanya meminta biaya sekitar 10 persen
dari total 70 persen yang diterima pengembang atas aplikasi Android
berbayar yang mereka jual.
"Kalau dulu untung kita jadi berkurang, jadi hanya dapat 60 persen dari hasil penjualan. Tapi sekarang
developer di Indonesia sudah bisa dapat untung 70 persen, dan 30 persennya untuk Google," kata Andri.
Meski
sekarang pengembang aplikasi di Indonesia sudah bisa berjualan langsung
di Play Store, mereka masih harus dihadapkan pada masalah klasik dalam
ekosistem Android, yaitu pembajakan aplikasi. Dalam kasus ini,
dibutuhkan kesadaran pengguna untuk lebih menghargai karya dan
kreativitas para pengembang.
Potong pulsaPengembang aplikasi dan
game
di Indonesia sebenarnya punya harapan besar agar Google mau menerima
pembayaran dengan metode potong pulsa, lantaran jumlah pengguna kartu
kredit di Indonesia tidak mengalami pertumbuhan signifikan. Sementara
itu, untuk membeli aplikasi, pengguna ponsel pintar atau tablet di
Indonesia lebih familiar dengan metode potong pulsa.
"Di Jepang
dan Korea Selatan, Google sudah membuka metode pembayaran potong pulsa
untuk pembelian aplikasi Android. Ini salah satu alasan kenapa
pengembang di sana kaya, dan ekosistemnya tumbuh pesat," ujar Anton.
Beberapa
perusahaan operator seluler di Indonesia sudah berusaha melobi Google
agar mau membuka metode potong pulsa. Namun, hingga kini Google belum
merealisasikan hal itu.
Toko aplikasi
online Windows
Phone, Nokia Store, dan BlackBerry World sudah lama membuka metode
potong pulsa hasil kerja sama dengan perusahaan operator seluler. Hal
ini sangat memudahkan pengembang untuk mendapatkan uang dari aplikasi
mereka.
.
.