Blog www.monzaemon.com sedang dialihkan ke monzaemon69.blogspot.com untuk sementara :')

lagi ngebahas ini

BBM Harus Naik?

©MonZaeMon™ 69 - Bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat ini akan dinaikkan harganya oleh pemerintah sebagai upaya akhir untuk mengurangi subsidinya yang sudah mencapai 130 triliun rupiah lebih. Bahkan kalau tetap dipertahankan dengan harga sekarang, subsidi akan membengkak hingga 203 triliun rupiah. Namun, apakah ini benar-benar merupakan keputusan akhir yang harus ditempuh?

Jika ditelusuri, akibat dari kenaikan harga BBM ini akan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat. Harga-harga bahan kebutuhan pokok turut naik, pun harga barang sandang papan juga tak ketinggalan. Hal ini mungkin tidak dirasakan oleh masyarakat dari golongan menengah ke atas, namun bagi masyarakat menengah ke bawah amat terasa. Kini pun harga beras yang lebih dari 8 ribu rupiah per liternya itu sudah cukup memberatkan. Apalagi nanti kalau BBM sudah naik?
Kita tahu bahwa Indonesia negara kaya raya. Sumber daya alam melimpah mulai dari hasil pertanian, perkebunan, hutan, minyak bumi, gas, hasil tambang berupa emas, tembaga, timah, nikel, mangan batu bara dan sebagainya dan sebagainya. Tak bisakah dari sedikit keuntungan penjualan hasil sumber daya alam itu dimanfaatkan untuk mensubsidi BBM agar harga tetap murah hingga harga sandang pangan papan terjangkau masyarakat? Mungkinkah dilakukan subsidi silang dengan menggunakan hasil keuntungan tadi? Dengan banyaknya sumber daya alam tadi, masih pantaskah rakyat Indonesia melarat di negeri sendiri
Ya. Teori memang mudah, namun apakah demikian juga dengan pelaksanaannya? Banyak pertanyaan yang harus dijawab terkait dengan kenaikan BBM ini.
Apakah benar subsidi BBM sehingga harga tetap murah hanya menguntungkan orang-orang kaya di negeri ini? Bukannya juga menguntungkan orang-orang berekonomi lemah. Apakah iya harga BBM di dalam negeri harus mengikuti harga BBM di luar negeri (ICP)? Apakah pemerintah tak berkeinginan untuk melayani rakyatnya sendiri dengan memberikan harga BBM yang terjangkau? Apakah mengganti kenaikan BBM dengan BLT permasalahan sudah selesai? Demikian juga dengan menggratiskan biaya pendidikan dasar dan menengah pertama yang ternyata tidak benar-benar gratis. Malahan kini biaya pendidikan di universitas negeri melonjak tinggi.
Namun tak dapat disangkal, BBM yang berasal dari proses jutaan tahun ini memang sudah menjadi barang mahal saat ini. Kini cadangan minyak bumi disinyalir sudah tinggal sedikit akibat penggunaan tak terbatas oleh manusia sejak pertama kali ditemukan dan dijadikan sebagai bahan bakar. Seperti halnya barang langka dan antik, lama kelamaan harganya makin mahal karena sulit ditemukan dan tak ada penggantinya.
Apakah benar BBM tak ada penggantinya? Ada, dong. Masih banyak sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti BBM. Sebut saja energi listrik, gas alam, sinar matahari, angin, bahkan air. BBM juga tak melulu dibuat dari minyak bumi, tetapi dapat dari tetumbuhan dan bahan-bahan alami lainnya. Masyarakat di negara-negara maju di Eropa sudah mulai beralih ke kendaraan elektrik. Daripada menggunakan mobil berbahan bakar minyak yang mahal harganya itu, mereka lebih memilih angkutan massal dan sepeda. Lebih ramah lingkungan dan ramah kantong.
Akibat dari kenaikan BBM bahkan mungkin bisa mengurangi kemacetan yang kini makin ‘nggilani’ di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, apalagi di pintu tol Halim yang sempit meripit itu. Namun hal ini akan terjadi jika dan jika pemerintah telah menyediakan angkutan umum massal yang layak dan mencukupi jumlahnya bagi masyarakat. Tak heran produsen-produsen mobil berlomba-lomba memasarkan produknya ke Indonesia, karena mengetahui pasarnya masih terbuka lebar yang disebabkan oleh harga BBM yang murah. Tidak salah ‘kan apabila kemacetan ini yang mungkin menjadi salah satu biang keladi naiknya harga-harga karena waktu tempuh transportasi menjadi lama, tingkat stress yang tinggi di jalan, jumlah ‘setoran’ meningkat, polusi juga bertambah. Ya, gara-gara BBM murah!
So, masihkah harus bergantung kepada “BBM”? ‘Kan sudah ada “Whatsapp”? :D

No comments:

Post a Comment